PageNavi Results No.

Mayat Mbah Ngatimin 11 Tahun Masih Utuh. Kenapa Seperti Itu?


Surabaya- Ourview, Saya melihat dan meraba secara langsung mayat Bapak Ngatimin (W. 2009) dengan tulang-tulang yang masih tersambung secara utuh, dan kain kafan yang masih baru.

Hanya warnanya sedikit kecoklatan. Semasa hidupnya, pria kurus bersebelahan dengan rumah saya di Siwalankerto Surabaya itu pada tahun 1980-an berdarah-darah mencari sumbangan untuk pembangunan masjid megah yang dinikmati masyarakat sekarang.

Pada saat itu, ekonomi masyarakat tidak sebaik sekarang, sehingga nyaris semua panitia pembangunan menyerah.

Semua penduduk menjadi saksi, kakek tanpa anak itu jarang tidur untuk membetulkan kran, lampu, dan semua perlengkapan masjid, atau sendirian membersihkan selokan dan dekorasi kampung, pos kamling dan sebagainya tanpa imbalan sedikitpun. Ia benar-benar muslim nasionalis-religius: all out demi masjid, demi TK dan SD Kyai Ibrahim, dan demi bangsa dan negara.

Berkali-kali juga, pagi buta ia mencari anak-anak saya, juga anak-anak yang lain sekadar memberikan mainan tradisional bikinannya.

Kemaren (1/3), ketika memakamkan istrinya, Sumiatun bersatu dalam satu liang, saya meneteskan air mata mengenang kemuliaan kakek Ngatimin: sosok muslim yang cinta Allah, cinta Rasulullah, cinta bangsa, cinta keluarga dan cinta anak-anak siapapun. Allahummaghfir lahuma, warhamhuma. Prapto/ Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Post a Comment

0 Comments